,
08 November 2018 | dibaca: 119 pembaca
TPT Turun, Lapangan Kerja Lampaui Target RKP Dan RPJMN

Jakarta, skornews.com

 

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2018 yang dilaksanakan Badan Pusat Stastistik (BPS), dengan sampel sebanyak 200 ribu rumah tangga hingga ke tingkat kab/kota yang menangkap fenomena di luar masa panen menyatakan bahwa hasil data Sakernas terlihat lebih tinggi dari pada angka Sakernas Februari 2018. 

 

Patut dicatat, data Agustus lebih baik jika digunakan untuk menggambarkan kondisi tahunan karena masa tahun ajaran selesai sehingga banyak lulusan sekolah masuk angkatan kerja dan belum terserap, juga bukan merupakan masa panen besar sehingga terjadi perpindahan yang besar ke kelompok bukan angkatan kerja dan jumlah angkatan kerja cenderung lebih kecil. Oleh karena itu, pembandingan harus merujuk angka pada periode yang sama di tahun sebelumnya atau year on year (yoy). Secara matematis, TPT akan membesar karena penyebut dalam rumus (angkatan kerja) berkurang banyak, meskipun jumlah pengangguran menurun.

 

Jumlah lapangan kerja Indonesia pada 2018 telah melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yaitu meningkat 2,99 juta dibandingkan 2017. Dalam rentang 2015-2018, Pemerintah telah berhasil menciptakan 9,38 juta lapangan kerja. Secara absolut, jumlah pengangguran juga turun sebesar 40 ribu orang sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 5,34% tahun ini.

 

"Jika pertumbuhan ekonomi mencapai target RKP 2019 sebesar 5,2-5,6%, TPT dapat diturunkan menjadi 4,8-5,2% pada 2019 dengan penciptaan kesempatan kerja sebanyak 2,6-2,9 juta orang dan lapangan kerja formal di sektor bernilai tinggi dapat menyerap angkatan kerja berpendidikan SMA ke atas,” terang Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dalam Forum Merdeka Barat 9 “Pengurangan Pengangguran” yang dihadiri Mendikbud Muhadjir Effendy serta Menaker Hanif Dhakiri di Gedung Bappenas, Jakarta (8/11). 

 

Menaker Hanif Dhakiri dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro

 

Berdasarkan Sakernas Agustus 2018, jumlah penciptaan lapangan kerja pada 2016 sebesar 3,59 juta, 2017 sebesar 2,61 juta dan untuk periode Agustus 2018 sebesar 2,99 juta. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan kesempatan kerja sebesar 1,99%. 

 

Dari target penciptaan kesempatan kerja pada tahun 2015-2019 sebesar 10 juta orang, hingga 2018 pemerintah sudah dapat menciptakan 9,38 juta kesempatan kerja. Penciptaan kesempatan kerja paling rendah yang terjadi di 2015 (0,19 juta) karena Pelemahan USD memukul impor bahan baku yang berpengaruh pada terpukulnya sektor industri dan pengurangan jumlah pekerja yang cukup besar pada sektor pertanian karena beralih ke sektor jasa. 

 

Pengangguran terendah pada 2018 adalah Provinsi Bali (1,37%), NTT (3,01%) dan Sulawesi Barat (3,16%). Sementara pengangguran tertinggi adalah Banten (8,52%), Jawa Barat (8,17%) dan Maluku (7,27%). Dibandingkan setahun 2017, TPT di perkotaan mengalami penurunan sebesar 0,34 poin sedangkan di perdesaan meningkat sebesar 0,03 poin. Kondisi ini dipengaruhi oleh jumlah pekerja di sektor pertanian yang menyusut. Para pekerja di desa yang keluar dari sektor pertanian namun belum memperoleh pekerjaan baru menjadi beban pengangguran di perdesaan.


Selama 2015-2018, sektor jasa menyerap 9,77 juta pekerja sedangkan industri hanya 2,99 juta orang. Transformasi struktural tenaga kerja terjadi dari sektor pertanian ke sektor jasa. Sementara itu, lapangan kerja formal dan informal proporsi lapangan kerja formal terus meningkat. Lapangan kerja formal adalah mereka dengan status buruh/pegawai/karyawan dan berusaha dibantu buruh tetap. Pada 2014, proporsi lapangan kerja formal mulai di atas 40% dan meningkat perlahan. Tahun 2018 proporsi lapangan kerja formal mencapai 43,16% atau 53,5 juta orang. 

 

Terkait Pendidikan Pekerja, Lapangan kerja masih didominasi pekerja berpendidikan SMP ke bawah sebesar 58,77% atau 72,88 juta orang. Untuk mengatasi isu tersebut, Pemerintah Indonesia mendorong perbaikan produktivitas kerja melalui pendidikan dan pelatihan kejuruan dan pengembangan kewirausahaan dan peningkatan industri manufaktur padat pekerja.

 

Selama 20 tahun, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) cenderung stagnan. Rata-rata TPAK laki-laki adalah 84% sementara perempuan 50%. Pada 2018, tercatat 8,3 dari 10 laki-laki adalah AK sementara perempuan hanya 5,2 dari 10. 


Kondisi ketenagakerjaan menunjukkan bahwa kendala terbesar yang dihadapi Indonesia bersumber dari terbatasnya keahlian (skill) angkatan kerja dan ketidakcocokan (mismatch) antara kebutuhan dengan ketersediaan tenaga kerja. Peningkatan kualitas dan keahlian angkatan kerja masih menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia. 


“Beberapa kebijakan yang ditempuh pemerintah diantaranya pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi, dan pemagangan pekerja di industri, pengembangan program link and match dengan dunia industri dengan dukungan informasi pasar kerja, pengembangan ekonomi lokal di perdesaan, peningkatan investasi padat pekerja dan formalisasi UMKM serta perluasan cakupan dan skema perlindungan sosial bagi pekerja,” terang Menteri Bambang. ||Adin

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com