,
21 April 2015 | dibaca: 7337 pembaca
PT Prudential Digugat Wanprestasi

skornews.com, Jakarta

Di tengah pergeseran tren masyarakat yang mulai menunjukkan minat terhadap sistem asuransi, maka perusahaan asuransi tentunya dituntut  jika pihaknya memang betul-betul dapat menjadi andalan dan harapan masyarakat yang membutuhkan perlindungannya.

 

Namun sayangnya, masih saja ada perusahaan asuransi yang menolak klaim asuransi nasabah atau pihak keluarganya sebagai penerima manfaat, dengan berbagai alasan yang terkesan mengada-ada dan salah satunya nasabah dianggap tidak jujur pada saat pengisian Surat Pengajuan Asuransi Jiwa (SPAJ), karena dianggap menyembunyikan penyakitnya.

 

Buktinya, PT Prudential Life Assurance telah digugat wanprestasi (telah cidera janji) oleh Ibu Hotmauli Manurung sebagai penerima manfaat dari pemegang polis No. 52635345, pada tanggal 10 Desember 2013 atas nama Tohap Napitupulu.

 

Sidang gugatan tersebut, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Senin (20/04/2015), digelar  sidang ketiga kalinya terkait kasus penolakan klaim asuransi oleh PT Prudential Life Assurance (tergugat) terhadap klaim Hotmauli Manurung, selaku penggugat.

 

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Nurul Hasana ini, dihadiri kuasa hukum penggugat, Capt. Ucok Samuel Bonaparte Hutapea dan Ridha Sjartina dari Samuel Bonaparte & Partners. Sedang pihak tergugat diwakili oleh kuasa hukumnya, Eri Edhi Satrio dan Herry Posma Sirait dari Hendro dan Kanon Law Firm.

 

Sebelumnya, pihak Prudential tidak hadir dalam dua kali persidangan, namun kali ini mereka hadir dan diizinkan Ketua Majelis Hakim untuk mengikuti proses persidangan ketiga ini. Menurut kuasa hukum penggugat, Samuel yang dijumpai SKORNEWS seusai sidang, ketidakhadiran pihak Prudential pada sidang pertama dan kedua tidak memberikan alasan yang jelas.

 

Padahal, pada persidangan sebelumnya (kedua, Red) telah ditetapkan agenda sidang Senin (20/04/2015), adalah pengumpulan bukti-bukti untuk kemudian dilakukan putusan verstek, yakni putusan yang dijatuhkan karena tergugat tidak hadir di persidangan. Namun Ketua Majelis Hakim menunda rencana tersebut dan menganjurkan kedua pihak untuk mediasi perdamaian.

 

Capt. Samuel Bonaparte dan Ridha Sjartina selaku kuasa hukum dari Ibu Hotmauli Manurung selaku penggugat menjelaskan, dalam kasus ini Prudential menolak mencairkan asuransi jiwa yang diajukan oleh Ibu Hotmauli Manurung dengan dasar yang tidak masuk akal dan terkesan mengada-ada, yaitu ‘menduga/menuduh’ tertanggung (suami penggugat) memiliki indikasi penyakit jantung yang tidak dilaporkan pada saat pengisian Surat Pengajuan Asuransi Jiwa (SPAJ), semata-mata karena pernah berobat dengan nyeri di dada, dimana hal ini berbeda dengan fakta yang ada.

 

Menurut Capt. Ucok Samuel Bonaparte Hutapea AMd SH SE MMar, keterangan dokter yang pernah memeriksa Almarhum Tohap Napitupulu (suami Penggugat) selaku tertanggung saat mengalami nyeri tersebut, yang terjadi hampir 2 tahun sebelum mengikuti asuransi, dan berdasarkan rekam EKG saat itu, tertanggung tidak pernah terindikasi memiliki penyakit jantung sebelumnya.

 

“Walaupun demikian pihak prudential tetap tidak melaksanakan kewajibannya untuk membayarkan uang pertanggungan atas meninggalnya suami Penggugat, pada 31 Januari 2014 sesuai Surat Keterangan Kematian No. 010/RSEB-RM/IGD/BD/I/2014 yang dikeluarkan oleh RS St. Elisabeth,” jelasnya.

 

Lebih lanjut Samuel Bonaparte menjelaskan, dalam perjanjian asuransi dikenal asas utmost good faith (itikad baik). “Hal tersebut adalah kewajiban semua pihak dalam perjanjian asuransi dan bukan hanya kewajiban salah satu atau sebagian pihak saja. Jika pihak asuransi merasa suatu pemeriksaaan atau suatu formalitas tertentu dibutuhkan, contohnya medical check up, maka seharusnya hal tersebut dimintakan kepada tertanggung untuk dilakukan,” jelasnya.

 

Jika pada saat pencairan asuransi jiwa, perusahaan asuransi  mempermasalahkan formalitas dalam pendaftarannya, maka hal tersebut menjadi tidak adil, karena saat pencairan si tertanggung pasti sudah meninggal dan tidak bisa lagi memberikan keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi saat proses pengisian Surat Pengajuan Asuransi Jiwa (SPAJ) dahulu.

 

“Siapa yang tahu jangan-jangan agen dari asuransi sendiri yang justru menolak dilakukannya medical check up. Makanya, kalau ragu, jangan diterbitkan dong polisnya,” tegasnya.

 

Dan anehnya lagi, ungkap Samuel, mengapa PT Prudential Life Assurance yang secara umum layak diakui prestasinya, terutama dalam menjaring nasabah ini, kok bisa-bisanya melakukan pendholiman atau tindakan wanprestasi terhadap penggugat yang notabene seorang janda yang kini terpaksa bersusah payah seorang diri mengurus dua putra-putrinya.

 

Padahal, katanya lagi, Ibu Hotmauli Manurung juga telah mengajukan klaim yang serupa pada Asuransi Mega Life dan Asuransi BRIngin Life terkait dengan klaim atas kematian Tohap Napitupulu, dan klaimnya kepada perusahaan-perusahaan asuransi tersebut diterima.

 

Terlepas dari hal tersebut, ujarnya, saya tidak habis pikir, kenapa mudah sekali pihak asuransi mendapatkan rekam medik. Sementara bagi pasien sendiri, meminta rekam medik akan melalui rintangan luar biasa dan belum tentu diberikan pula oleh rumah sakit. “Coba saja minta, kalau tidak percaya," katanya setengah bertanya.

 

Sementara pihak kuasa hukum PT Prudential Life Assurance, Eri Edhi Satrio ketika dihubungi via HPnya untuk konfirmasi, tidak diterima. Dan smspun juga tidak direspon.  @ Tirta/S10

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com