,
06 Juni 2016 | dibaca: 839 pembaca
Polres Pangkep dan Semen Tonasa Dituding Kongkalikong
Demo IPPM Pangkep Terkait CSR Tonasa Dibubarkan Paksa Aparat

PANGKEP, Skornews.com

Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Pangkajene dan Kepulauan (IPPM Pangkep) menuding Polres Pangkep telah bertindak represif dan tidak memahami aturan kebebasan dalam menyampaikan aspirasi di muka umum.

 

Tudingan itu terkait pembubaran paksa yang dilakukan aparat Polres Pangkep terhadap aksi unjuk rasa IPPM Pangkep, Jumat (3/6). Dalam penanganan aksi itu, pihak kepolisian juga melakukan pemukulan terhadap peserta unjuk rasa yang mengakibatkan luka dibeberapa bagian tubuh.

 

Ketua Umum IPPM Pangkep, Faisal mengaku kecewa atas tindakan aparat Polres Pangkep tersebut yang dinilai tidak sesuai dengan SOP yang berlaku.

 

“Ini menunjukkan adanya dugaan kami pihak kepolisian melakukan kongkalikong dengan pihak semen tonasa agar aksi yang kami lakukan dibuat kacau dan berujung pada pemukulan salah satu anggota saya” Ujar Faisal.

 

Aksi unjuk rasa IPPM Pangkep itu terkait adanya dugaan penyalahgunaan anggaran coorporate sosial responsiblity (CSR) PT. Semen Tonasa untuk pembangunan 11 Desa  yang berada di Wilayah Ring 1 perusahaan.

 

IPPM menagih janji PT Semen Tonasa untuk menyalurkan sisa dana CSR tahun 2015 untuk pembanguanan 11 desa sekitar Rp2,1 miliar lebih yang hingga saat ini belum dicairkan pihak perusahaan.

 

Sesuai program tahun 2015, dana CSR untuk 11 desa ini adalah sekitar Rp3,3 miliar dengan rincian Rp300 juta untuk setiap desa. Namun hingga Juni 2016 dana CSR yang dicairkan hanya sekitar 40 persen dan menyisakan sekitar Rp2,1 Miliar atau sekitar 60 persen.

 

Aksi yang diikuti ratusan mahasiswa itu merupakan aksi damai, berlangsung selama 2 jam. Setelah penanggung jawab aksi mengucapkan salam penutup dan massa aksi hendak membubarkan diri, saat itu terjadi ketegangan antara polisi dan peserta aksi.

 

Beberapa anggota yang tergabung dalam aksi itu diculik sehingga menimbulkan reaksi dari massa yang mulai tidak terkontrol karena merasa didzalimi oleh aparat kepolisian yang seharusnya melakukan pengamanan aksi.

 

Salah satu peserta aksi yang diculik adalah Ketua IPPM Pangkep Koordinator Unismuh, Rahmat H, selain diculik Ia juga dipukuli hingga menimbulkan luka bengkak dan memar di bagian pipi, dada dan perutnya.

 

Setelah melakukan aksi, pihak IPPM langsung menuju ke RSUD Kabupaten Pangkep untuk melakukan visum. Awalnya pihak RSUD Pangkep menolak untuk melakukan visum dengan alasan tidak ada instruksi dari pihak kepolisian, namun setelah mendapatkan sedikit tekanan dari mahasiswa tersebut akhirnya pelayanan kembali dilakukan.

 

Setelah visum dilakukan pihak IPPM Pangkep kemudian menuju ke Polres Pangkep untuk melaporkan salah seorang oknum kepolisian yang melakukan pemukulan terhadap peserta unjuk rasa.

 

Namun pihak Polres Pangkep enggan untuk menerima laporan terkait pemukulan salah seorang anggota IPPM Pangkep saat melakukan aksi unjuk rasa tersebut. Setelah menunggu selama 4 jam pihak yang terkait tidak kunjung datang sehingga mahasiswa tersebut memilih membubarkan diri.

 

“Ini menunjukkan bahwa kepolisian melindungi anggotanya yang telah melakukan pemukulan terhadap pendemo. menurut kami pemukulan ini merupakan tindak pidana murni yang tidak boleh dibiarkan begitu saja demi tegaknya sebuah keadilan” Tegas Faisal dengan nada kecewa.

 

“Oknum kepolisian yang melakukan pemukulan terhadap mahasiswa IPPM Pangkep diduga kuat menjadi biang provokator dalam tragedi ini karena ada beberapa anggota yang mengenal aparat tersebut” Tambahnya. AA.048

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com