,
16 Januari 2018 | dibaca: 337 pembaca
Penyebab Tersandung Tipikor PBJ

Pakar PBJ P3I, Khalid Mustafa

 

Oleh: Khalid Mustafa

Pakar Pengadaan Barang/Jasa

Pusat Pengkajian Pengadaan Indonesia (P3I)

 

 

Khalid Mustafa (kiri) bersama pakar-pakar PBJ P3I (gbr. P3I Procurement Channel)

 

 

Ada 3 hal yang menjadi penyebab seseorang tersandung pada kasus Tipikor khususnya dalam bidang Pengadaan Barang/Jasa (PBJ) pemerintah, 3 hal itu adalah:

  1. Jahat
  2. Terpenjara Perintah Atasan
  3. Tidak Tahu

Jahat

Kelompok ini adalah kelompok yang paling membuat ulah dan masalah, dalam pikiran mereka adalah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan lagi benar dan salah.

 

Setiap jabatan maupun kesempatan yang dimiliki dianggap sebagai sebuah peluang untuk menambah pundi-pundi kekayaan, “seribu satu cara licik” mereka gunakan.

 

Mereka ini adalah kelompok yang pantas untuk dipidana seberat-beratnya.

 

Terpenjara Perintah Atasan.

Kelompok ini terbanyak berada pada lingkup Pegawai Negeri Sipil, Pegawai BUMN/D maupun pegawai swasta. Ancaman mutasi ke daerah terpencil, kehilangan jabatan, dikucilkan dari pergaulan, kehilangan tunjangan, dipecat dari pegawai,  menjadi senjata ampuh untuk mengendalikan mereka.

 

Mereka bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya dan diarahkan kesana kemari oleh atasannya. Mata mereka dibutakan oleh iming-iming jabatan, kesempatan, harta, maupun kepastian nasib yang dijanjikan oleh orang yang sebenarnya sama mayanya dengan mereka juga.

 

‘Patgulipat’ lelang, persyaratan yang aneh bin ajaib, mereka tahu itu salah tapi tidak memiliki (kemauan) kemampuan untuk menghindari.

 

Mereka ini adalah orang-orang yang patut dikasihani karena sebenarnya mereka adalah tameng atau korban dari golongan pertama.

 

Tidak Tahu

Yang terparah adalah banyak yang tidak tahu bahwa mereka tidak tahu.

 

Saat disampaikan informasi, mereka tutup telinga karena (mungkin) yang menyampaikan berada di bawah level mereka atau menganggap itu tidak penting namun saat terkena musibah, barulah terlihat wajah melongo mereka. Tatapan memelas, mata yang merah berair, raut penyesalan karena tidak belajar, bahasa tubuh lemas karena pasrah adalah tanda-tanda umum saat bertemu dengan kelompok ini.

 

Ucapan “saya baru tahu pak”, “kalau tahu begini saya tidak mau jadi PPK”, “kok tidak disampaikan sebelumnya” dan “saya menyesal baru tahu sekarang” adalah kalimat-kalimat umum yang mereka sampaikan saat menjadi terperiksa, tersangka, terdakwa dan bahkan saat jadi terpidana.

 

Mereka lupa bahwa yang namanya belajar dan mencari tahu adalah fitrah manusia. Setiap jabatan, tindakan, perbuatan pasti ada ilmu dan pengetahuannya. Menjadi seorang PA/KPA, PPK, ULP, PPHP, Bendahara, Pengusaha, Anggota DPR/DPRD, APH dll pasti membutuhkan pengetahuan yang spesifik. Pasti ada rambu-rambu yang mana boleh, tidak boleh, wajar, tidak wajar, wajib, sunnah, mubah, dll yang harus diketahui.

 

Jabatan adalah amanah yang harus dijaga. Untuk menjaganya, butuh segenap kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, bukan sekedar dijadikan dasar untuk memperoleh keuntungan. Belajar tidak mengenal usia, waktu, kesempatan dan alas an, segala yang ada di sekeliling kita adalah ilmu pengetahuan yang hanya dibatasi oleh keinginan.

 

Untuk golongan ini, jadikan setiap kesempatan untuk terus belajar bahkan kalau sudah terlanjur terperosok maka itu merupakan pembelajaran yang paling berharga, bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga?.

 

Selengkapnya, klik disini

 

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com