,
02 Juni 2015 | dibaca: 1822 pembaca
Pemerintah Tipu Petani Kakao Sulbar

Jakarta, skornews.com

 

Program pemerintah pusat melalui Gerakan Nasional (Gernas) Kakao yang bertujuan meningkatkan produksi dan mutu tanaman kakao, diduga akan menjadi malapetaka bagi petani kakao di sulawesi khususnya sulawesi barat. Pasalnya, benih Kakao SE yang disalurkan kepada petani adalah benih rendah kualitas karena tidak lulus pada uji sertifikasi benih, ditambah lagi dengan kandungan 9 unsur hara dalam bantuan pupuk Gernas yang juga diduga dimanipulasi.

 

Sebagaimana diketahui bahwa program Gernas Kakao adalah hasil kesepakatan pertemuan koordinasi antara Wapres dengan Gubernur se-sulawesi Tahun, 2008 lalu yang dimulai pada Tahun 2009 - 2011, karena target tidak tercapai maka Menteri Pertanian mengajukan tambahan anggaran untuk melanjutkan program Gernas Kakao pada tahun 2012.

 

Ditemui di kantornya di bilangan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Aktivis LSM dari Polewali Mandar, Awi langsung berang dan menuduh pemerintah telah menipu petani di sulawesi Barat, “jika ini benar, berarti Pemerintah melalui Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian telah menipu petani di Sulawesi Barat,” kata putra mandar yang akrab disapa bang awi ini.

 

“hal ini tidak boleh dibiarkan, saya akan segera berkoordinasi dengan para Tokoh Mandar Sulawesi Barat yang berdomisili di Jakarta untuk menentukan langkah selanjutnya,” tambah bang awi.

 

Puslitkoka berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian RI dan merupakan lembaga non profit yang mendapat mandat melakukan penelitian dan pengembangan komoditas kopi dan kakao sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 786/Kpts/Org/9/1981 Tanggal, 20 Oktober 1981 dan sebagai penyedia data dan informasi yang berhubungan dengan kopi dan kakao.


Tugas Pokok dan Fungsi:

1.    Melakukan penelitian guna mendapatkan inovasi teknologi di bidang budidaya dan pengolahan hasil kopi dan kakao 

2.    Melakukan kegiatan pelayanan kepada petani/pekebun kopi dan kakao di seluruh wilayah Indonesia guna memecahkan masalah dan mempercepat alih teknologi

3.    Membina kemampuan di bidang sumberdaya manusia, sarana dan prasarana guna mendukung kegiatan penelitian dan pelayanan.


Pada program pengadaan benih Kakao SE Tahun 2010 – 2011 di Sulawesi, Direktorat Jenderal Perkebunan berpedoman pada tarif yang diterbitkan oleh Puslitkoka. Sementara Puslitkoka menjadi produsen tunggal dalam pengadaan benih Kakao SE tersebut sehingga diduga terjadi konflik kepentingan apalagi tugas pokok Puslitloka bukan sebagai penyedia barang/jasa

 

 

Terkait hal tersebut, Dirjen Perkebunan Kementan telah berusaha dikonfirmasi namun hinga berita ini ditulis, pihak kementan belum bersedia memberikan tanggapan.

 

Sementara itu, Produksi Kakao Berdasarkan data statistic Tahun, 2006 - 2010 mencapai 600 Ribu Ton namun pada Tahun 2010 hingga kini, produksi kakao hanya mencapai angka rata-rata 450 Ribu Ton per Tahun.

 

Disela acara Cocoa Gathering Makassar yang digelar Jakarta Futures Exchange (JFX) di Hotel Grand Clarion Makassar awal mei lalu, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi menyatakan bahwa program gernas yang dicanangkan pemerintah kurang efektif karena terjadi penurunan produksi kakao. Red

 

 

Nantikan kupasan lengkapnya pada terbitan Tabloid SKOR edisi ke-33 Tanggal, 7 Juni 2015

 

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com