,
07 November 2017 | dibaca: 447 pembaca
Membangun Dengan Bully

Penulis: Mappajarungi Manan

(Wartawan Senior Era Tahun 1980-an)

 

 

Baca judul tulisan ini, aneh! Tentu saja, bagaimana mungkin membangun dengan bully (mengejek, menghina, mengolok-olok secara verbal atau tulisan), itu tidak biasa dilakukan malah yang di bully akan "ngamuk" balik membalas bullying.

 

Akibatnya, kacau-balau tak menyelesaikan masalah, malah menimbulkan masalah demi  masalah.

 

Biasanya, orang yang lemah mental, nilai IPK dalam Akedemiknya rendah, misalnya di bawah 3 tak tahan dibully. mentalnya, “mental kerupuk” atau “mati pucuk” tak berkembang. Umumnya tukang  bully nilai akademiknya jeblok.

 

Coba amati rata-rata tukang bully, mungkin ya tidak semua ada beberapa persen saja karena itu, tulisan ini ringan-ringan saja agar semua bisa memahami dan semua cepat paham bagaimana bully itu bisa membangun sebuah peradaban, bisa membangun sebuah negara yang megah laksana surga.

 

Hingga kini, siapapun bisa melihat sebuah bangunan nan megah. Hasil dari bully. Tak percaya ?

 

Marilah kita tengok abad VII, saat itu dataran Timur Tengah dibawah kepemimpinan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, Ia akan menaklukkan dataran Eropa terutama Spanyol. 

 

Secara spontan Raja-Raja Eropa tertawa terbahak-bahak, otomatis muncul bully dimana-mana tapi Khalifah Al Walid tidak patah arang.

 

Justru bully itu menjadikan nada dan do’a mengiringi tekadnya yang bulat, mengiringi semangatnya membasmi kemungkaran, Ia Lantas memerintahkan Panglimanya, Musa bin Muzair untuk mengatur strategi penaklukan itu.

 

Musa menemukan orang yang cocok untuk memimpin pasukan menyeberangi laut Gilbraltar guna melakukan penaklukan itu. Pilihan jatuh pada Thariq bin Ziyad.

 

Bully pun makin membahana. Pasalnya, Thariq ini bukan siapa-siapa, hanya anak kepala suku di wilayah Maroko. Ia bekas budak Musa bin Muzair.

 

Bayangkan, bully makin menjadi jadi, mana mungkin seorang bekas budak mampu memimpin pasukan tempur, pasukan yang akan menaklukkan sebuah kerajaan yang kuatnya setara Romawi kali itu.

 

Tapi Thariq merasa terhormat menerima tugas yang dibebankan. Ia membawa 7.000 pasukan menyeberangi selat dan akan berhadapan dengan sekitar 100.000 pasukan Spanyol, logikanya dimana?

 

Ini menjadi bahan ejekan, bahan olok-olokan pasukan Frederick yang menguasai dataran Spanyol.

 

Menjawab itu, Musa mengirimkan bantuan 5.000 pasukan, itupun tetap menjadi bahan olok-olokan. Dengan pasukan hanya 12.000 tentu saja tidak hanya musuh tapi banyak pasukan Thariq yang ciut nyalinya berhadapan dengan pasukan Spanyol yang begitu banyak, belum lagi bantuan dari Romawi.

 

Bully itu sukar digambarkan bagaimana dasyatnya, kemudian kapal yang mengangkut mereka menyeberangi selat.

 

Ini makin kacau tapi Thariq adalah pilihan, pilihan ummat Islam. Ia pun berpidato membakar semangat anak buahnya.

 

Di tanganmu hanya ada pedang, laut di belakangmu, kalian tak sanggup lari, makanan tak ada, makanan ada di musuhmu. Rebutlah.

 

Dan semangat 12.000 pasukan itu terbakar. Tak ada pilihan, menyerah mati. mereka pun melawan. Buktinya, Raja Spanyol Frederick yang memimpin 100.000 pasukan, tewas. Merekapun menaklukkan Spanyol, kala itu dataran Eropa diam sejenak.

 

Kendatipun darataran Spanyol telah dikuasai oleh pemerintahan Khalifah Al Walid, bully dari masih terus menghujan. Kini mereka menguasai Spanyol, tapi apa bisa membangun, apa bisa mensejaterakan rakyat Spanyol, mereka dari gurun pasir yang tak tahu apa-apa, mereka hanya menelantarkan Spanyol dan menjadikan hutan merangas seperti di kampung mereka Afrika danTimur Tengah.

 

“Sialan nih Khalifah Walid, Spanyol bagai permata tergantikan kerikil” begitulah kira-kira bully buat pemerintahan Al Walid

 

Tapi Khalifah Al Walid makin semangat, Iapun mengumpulkan kerikil-kerikil itu untuk meletakkan dasar pembangunan di Andalusia, Cordoba meski ejekan tak terhenti hingga penerus Khalifah Alwalid, Abdul Rahman III tahun  930 M.

 

Rencana demi demi rencana Abdul Rahman untukmembangun Andalusia juga mendapat bully yang tidak kecil, resonansinya bahkan sampai ke ujung Inggris dan Perancis juga Roma.  Bagaimana mungkin orang padang pasir bisa membangun Andalusia. Tertawaan, sinisme terus menerus.

 

Akhirnya, Kota Andalusia terbangun dengan subur makmur, kehidupan rakyatnya bahagia. Rahman membangun pusat pemerintahan baru di atas perbukitan, diantara gunung dan lembah Guadalquivir.

 

Siapapun dapat melihat dan mengunjungi sisa-sisa peninggalan yang megah itu. Itulah hasil bully yang nyata.

 

Sekarang, di zaman now ini. Kita diperlihatkan bully dalam skala kecil karena hanya setingkat bully buat gubernur Anies. Dia dibully habis-habisan sebagai orang “padang pasir” padahal mereka tak sadar bahwa kemampuan akademik Anies itu diatas rata-rata dari para pembullynya.

 

Belum lagi terhadap Sandiana Uno, tiap kata yang dikutif jadi bahan bully, sampai sepatu yang dipakai juga dibully. Tak ada space yang kosong untuk tidak membully, tiada waktu tanpa membully

 

Mappajarungi Manan

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com