,
11 April 2017 | dibaca: 1324 pembaca
KKP Genjot Produksi Ikan Hias Nasional

Jakarta, skornews.com

 

Sebagai negara tropis dengan potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang melimpah termasuk didalamnya potensi ikan hias, saat ini Indonesia dijuluki sebagai Home of Hundreds Exotic Ornamental Fish Species.

 

Potensi besar sumber daya ikan hias nasional tentunya menjadi nilai strategis tersendiri bagi Indonesia khususnya dalam menggenjot penerimaan negara dari sumber devisa atas ekspor ikan hias Indonesia.

 

Dalam mewujudkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir ikan hias terbesar dunia, Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan menggenjot volume produksi ikan hias nasional, dimana Tahun 2017 ini diproyeksikan mencapai 2,1 Miliar ekor dan hingga Tahun 2019 ditargetkan menjadi 2,5 Miliar ekor.

 

Untuk mencapai target produksi ikan hias nasional tersebut, KKP akan menggenjot produksi pada sentra-sentra produksi ikan hias dan mengembangkan kawasan-kawasan potensial lainnya.      

 

Saat ini sentral-sentral ikan hias nasional masih didominasi oleh Propinsi Jawa Timur Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Banten, Maluku, dan Papua.

 

Dengan nilai Rp 579 Miliar, Jawa Timur merupakan penyumbang terbesar nilai produksi ikan hias nasional yakni sebesar 20% dari total nilai produksi nasional pada Tahun 2015 yang mencapai angka Rp 2,8 Trilliun.     

 

Adapun penyumbang terbesar berasal dari ikan hias air tawar sejumlah 5 spesies antara lain Platy, baster, komet, cupang dan koi sebanyak 392 Juta ekor sedangkan ikan hias laut, ikan nemo menempati posisi tertinggi dengan angka produksi sebesar 307 Ribu ekor disusul kuda laut, mandarin fish, banggai cardinal dan blue devil.

           

Ditanyakan mengenai strategi bagaimana menggenjot produksi ikan hias nasional, Dirjen DJPB KKP, Slamet Soebjakto menjelaskan bahwa dalam upaya pencapaian produksi, mutu dan nilai perdagangan ekspor, Pemerintah akan mendorong asosiasi ikan hias dan penyelenggara jasa transfortasi untuk bekerjasama secara terpadu mewujudkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir ikan hias terbesar dunia.

 

Menurut Slamet setidaknya ada 8 langkah-langkah strategis yang akan dilakukan yaitu: (1) peningkatan mutu melalui penerapan SNI dan CBIB Ikan Hias, (2) peningkatan produksi ikan hias, khususnya ikan koi dengan aplikasi vaksin, hormone, vitamin, (3) mendorong konservasi dan perlindungan habitat ikan asli Indonesia, (4) penguatan promosi dan pemasaran (branding), (5) pelayanan terpadu satu pintu, (6) meningkatkan kelancaran perdagangan dan transportasi, (7) penyeragaman data dan informasi produksi dan distribusi ikan hias dan (8) pengawasan dan penegakan aturan.

 

“Khusus kebijakan yang telah dijalankan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam rangka meningkatkan produksi ikan hias Koi dengan program “Koidi” yakni membudidayakan ikan hias dipadukan dengan cara bertanam padi, menggunakan minagrow dan vaksin,” tegas Slamet.

 

UPT Ditjen Perikanan Budidaya juga telah sukses melakukan domestikasi dan perbanyakan spesies ikan hias asli Indonesia, seperti spesies Betta rubra asli Aceh dan ikan botia asli Jambi, serta berbagai ikan hias asli Indonesia lainnya, “ini tentunya merupakan keberhasilan bidang budidaya dalam turut serta menjaga keragaman ikan hias asli Indonesia,” terang Slamet.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pendapatan tertinggi RTP (Rumah Tangga Pertanian) di sektor agribisnis adalah RTP Budidaya Ikan Hias sebesar Rp 50.848.000/Tahun dan produksinya terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2015 tercatat volume produksi ikan hias nasional menembus angka 1,314 Miliar ekor. ||Yudi

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com