,
11 April 2015 | dibaca: 1249 pembaca
Kebudayaan Warkop Dan Kita

Ridwan Demmatadju

Opini by: Ridwan Demmatadju

 

Tempat yang paling sering dikunjungi bahkan jadi tempat mangkal orang-orang dengan berbagai latar belakang profesi dan pendidikan adalah warung kopi (warkop).

 

Hampir di setiap sudut dan pusat kota di manapun, tidak sulit menemukan warkop dengan berbagai fasilitas yang memanjakan pengunjungnya, salah satunya adalah jaringan internet pasti tersedia di tempat “kongkow-kongkow” dan “cokko-cokko” dari pagi hingga dini hari itu.

 

Mengapa warkop jadi pilihan yang dengan sadar atau tidak, kita telah terikat dengan pilihan itu, rasanya ada yang kurang jika tidak ke warkop menikmati secangkir kopi diminum pelan-pelan agar awet hingga berjam-jam demi koneksi wifi sambil berdiskusi tentang apa saja bahkan sampai pada negosiasi dan transaksi bisnis. Itulah warkop telah menjadi pilihan kita yang melengkapi gaya hidup di era modern.

 

Saya belum pernah melakukan penelitian soal warkop dan segala macam variabelnya dengan metodologi yang rumit untuk mengetahui secara pasti kehadiran warkop ini bisa menjadi pilihan sekaligus gaya hidup masyarakat kita hari ini.

 

Saya juga belum pernah menjajal warkop yang tersebar di seluruh nusantara, saat ini baru sempat ngopi di “kopi kita” satu warkop yang ada di kota Kendari itupun dua tahun lampau, saat ikut seleksi calon komisioner penyelenggara pemilu namun gagal.

 

Itu saja yang sempat saya ingat. Oh yah.. satu lagi saya ngopi di capetaria kantor PT Antam di Pomalaa, selebihnya saya tidak ingat lagi.

 

Kalau saya ditanya soal warkop di Kolaka bagaimana? saya hanya bisa menyebut nama Warkop KNPI Kolaka di jalan poros Pemuda, Wakop Dg Sira di jalan Pramuka, Warkop Dg Pole di By Pass dekat rumah kediaman mantan Bupati Kolaka dan Warkop Dg Ngaji yang juga di jalan Pramuka tapi sudah tutup.

 

Dari pengamatan sekilas, paling ramai dikunjungi adalah Warkop KNPI Kolaka kemudian Warkop Dg Sira. Itu saja yang bisa saya ceritakan di tulisan ini.

 

Mengapa warkop itu ramai dan siapa mereka yang menjadi pengunjung tetapnya? Apakah warkop di Kolaka telah menjelma sebagai sebuah kebudayaan? Inilah yang membuat saya harus menulisnya lalu kemudian muncul pertanyaan, untuk apa?

 

Saya harus terbuka kepada pembaca, bahwa saya menulis ini bukan pesanan dari pemilik warkop atau karena saya bisa ngopi satu-dua gelas tanpa bayar dan bisa ngutang rokok di warkop yang saya sebutkan tadi, bukan itu! Saya tetap membayar meski ada perlakuan khusus dari juragan warkop tadi, Saya tidak mau masuk di wilayah sensitif itu, biarlah saya yang tahu dengan pemiliknya.

 

Memang jika ditelusuri ke belakang, menjamurnya warkop di Kolaka, kalau tidak salah hitung itu dimulai ditahun 2010 dengan kehadiran Warkop KNPI di Kolaka dan saya menjadi bagian dari Warkop ini karena saya masih tercatat sebagai pengurus KNPI Kolaka di zaman Bung Syaifuddin Mustaming berlanjut ke Bung Anis Pamma sebagai Ketua KNPI Kolaka yang tinggal beberapa bulan harus berkemas-kemas meletakkan jabatannya.

 

Dari catatan saya, Warkop KNPI Kolaka sejak awalnya dibuat adalah sebagai tempat ngopi bersama dan salah satu kiat agar masyarakat mengetahui bahwa di Kolaka ada organisasi kepemudaan dan lebih penting sejumlah pengurus merasa wajib datang di sekretariat karena sebelum ada Warkop, pengurus yang rutin berkantor hanya segelintir saja dan bahkan bikin kopi sendiri.

 

Dengan adanya warkop ini, hampir semua pengurus KNPI Kolaka menjadikan tempat ini wajib dikunjungi kendati tidak ada keterpaksaan, boleh jadi telah terbentuk kesadaran baru untuk menjadikannya sebagai kebudayaan warkop.

 

Saya harus memilih menulis dengan kebudayaan warkop bukan dengan kata gaya hidup atau life style. Barangkali ini ada pengaruhnya dari berita penobatan Raja Mekongga yang baru disandang oleh Drs. H. Haerun Dahlan, MSi yang belum seminggu berlangsung di Rumah Adat Mekongga Kolaka dihadiri sejumlah raja dan kesultanan nusantara menggantikan Hj Nur Saenab Lowa yang telah berpulang tahun lalu.

 

Kebudayaan warkop dan kita memang menjadi sesuatu yang penting untuk diwacanakan sebelum beranjak pada wacana permulaan yang lebih substantif untuk memastikan bahwa semua dapat bertahan sampai 1000 tahun.

 

Dari pemikiran sederhana, saya ingin membuka kebudayaan warkop sama dengan kebudayaan diskusi, dialog yang intensif yang tanpa sadar kita mulai dari warkop kelas murahan hingga warkop di kelas bintang.

 

Buat saya itu tidak penting dimana dia diletakkan strata social warkopnya yang lebih penting adalah dari warkop itu bisa melahirkan wacana-wacana penyadaran atas peradaban kita yang makin ‘karut-marut’.

 

Sabang hari kita disuguhi tontotan gratis perilaku bangsa ini yang makin memalukan, mulai dari  koruptor yang ‘tertangkap basah’, aksi begal yang penuh kontroversi hingga adu jotos anggota DPR di Senayan Jakarta. Semua ditayangkan dan menjadi sarapan pagi kita.

 

Peristiwa demi peritiwa mengalir kencang dan jadi hal wajar-wajar saja, bahkan menjadi kebudayaan baru bernama korupsi, begal dan jotos. Ruang kesadaran kita makin padat penuh dengan sepihan-serpihan kotor itu dan parahnya tak ada satu pun kekuatan yang mampu menghalaunya.

 

Dia semakin subur bersemi hingga merangsek ke ruang-ruang pribadi kita, tak heran begitu banyak berita kriminal menghiasi halaman muka Koran dan televisi dan pelakunya mereka yang punya jabatan tinggi hingga anak ingusan yang kedapatan menghabisi nyawa seorang ibu pemilik took di Pomalaa.

 

Dari frame ini, kita perlu menarik benang merah antara kebudayaan warkop dan kebudayaan Mekongga yang ada di Kabupaten Kolaka untuk memastikan bahwa wacana penyadaran itu penting dimulai dari diskusi yang lebih intensif untuk masuk pada strategi pengembangan kebudayaan Mekongga yang kini lagi digenjot untuk terus berlari kencang sampai pada titik kulminasinya. Bahwa pemahaman tentang sebuah peradaban sesungguhnya tidak sesederhana yang mungkin hari ini kita mengklaim diri sebagai orang yang begitu fasih berteori tentang kebudayaan beserta anasir-anasirnya.

 

Namun pada tataran akar rumput pesan dan narasi besar sebuah kebudayaan ini tidak bisa dipahami oleh masyarakat kita yang ada di Kabupaten Kolaka sebagai pemilik syah warisan leluhur bernama Kalo O sara yang mestinya dijadikan pola hidup bermasyarakat.

 

Dari pengamatan penulis, hal ini belum terasa sampai pesan leluhur ini sebagai sebuah nilai sosial yang harus dijaga keutuhannya hingga saat ini. Kita berharap banyak dari sebuah pengukuhan Bokeo Mekongga yang belum lama dinobatkan untuk membangun tata nilai budaya Mekongga yang adi luhung kelak. Upaya ini harus dilakukan karena kekuatan nilai-nilai tradisi yang pernah ada di masa lampau telah terbukti bisa bertahan sampai saat ini dan kekuatannya sangat luar biasa jika dia menjadi salah satu pedoman hidup bagi masyarakat di Kabupaten Kolaka.

 

Jika membandingkan yang lain, kemajuan sebuah peradabannya tentunya Kebudayaan Mekongga yang hari ini terasa menjadi arus besar dalam narasi sosial, nampak bahwa kebudayaan Mekongga sejak dahulu kala mendapat pengakuan dari sejumlah kerajaan dan kesultanan di nusantara, ini menjadi penanda yang baik bagi kebangkitan budaya Mekongga yang patut kita usung bersama-sama untuk bisa sejajar dengan peradaban besar di nusantara misalnya Kesultanan Jogyakarta, Surakarta, Palembang, Padang Panjang, Ternate dan Buton.

 

Sudah saatnya memulai membangun wacana yang baik untuk kemajuan budaya Mekongga yang hari ini masih terdengar adanya silang pendapat soal siapa yang berhak memangku jabatan Bokeo Mekongga meskipun sudah senyap-senyap.

 

Sepengatahuan saya, di Tahun 1999 saya pernah mencoba menulis ini tetapi belum apa-apa saya harus dihadapkan pada sikap “tertutup” dari pemilik warisan budaya Mekongga.

 

Saya bersyukur bisa menemukan sedikit referensi dari  teman bernama Munaser Arifin Latumaa yang saat itu merintis pembangunan museum Mekongga dengan “berdarah-darah” karena dia menggunakan dana pribadi untuk mewujudkan gagasan baik itu, meski pada akhirnya harus tutup karena biaya operasional sebuah museum itu bukan perkara kecil.

 

Disini saya tidak mau menarik satu kesimpulan untuk pembaca, atas peristiwa-peristiwa biasa hingga ritual yang dianggap sakral bagi Masyarakat Mekongga di Kolaka yang terbangun mulai dari Mosehe Wonua hingga peristiwa penobatan Bokeo Mekongga.

 

Tanpa bermaksud mengecilkan peran Pemerintah Kabupaten Kolaka pada zaman itu, seharusnya semua sudah direkonstruksi ulang semua benda-benda cagar budaya di Kabupaten Kolaka yang menjadi peninggalan Kerajaan Mekongga. Untuk apa? Saya kira jelas sekali untuk apa semua direkonstruksi ulang karena ketika semua telah muncul di permukaan sebagai sebuah warisan budaya yang jadi pedoman hidup maka saya percaya kebudayaan Mekongga akan jadi kuat dan jadi prilaku keseharian masyarakat di Kabupaten Kolaka yang kini sudah beragam etnis yang berdiam di dalamnya.

 

Yang paling penting dari tulisan ini adalah saya ingin mengungkapkan bahwa dari kebudayaan warkop yang jadi sarana menggali gagasan melalui diskusi dengan ketajaman pikiran kita bisa menjadi masukan positif bagi kebudayaan Mekongga di Kabupaten Kolaka, lebih saya sederhanakan lagi bahwa kebudayaan akan maju jika dimulai dari sebuah diskusi, dialog terbuka yang sehat dari semua pihak yang memiliki pemahaman secara konseptual maupun praktiknya.

 

Hal inilah yang perlu dibuka bahwa keinginan untuk membuka diri secara lugas dan berani itu penting untuk memastikan nilai kebenaran yang terkandung dari sebuah warisan budaya. Saya pikir seperti itu! tanpa itu, maka saya juga berkeyakinan kita akan tetap berjalan di tempat ketika membuka peta dan perkembangan kebudayaan Mekongga di Kabupaten Kolaka.

 

Penulis adalah:

Guru di SMAN 1 Latambaga, network kebudayaan tinggal di Watuliandu

 

      

 

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com