,
01 Oktober 2015 | dibaca: 687 pembaca
Kapolri: Tangkap Aktor Intelektual Pembunuhan Salim Kancil
Perintahkan Propam Usut Polisi Beking Penambang Liar

Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti.

SKORnews.com, Jakarta

KAPOLRI Jenderal Badrodin Haiti menampik banyaknya tudingan yang menyebut kepolisian bekerjasama dengan pihak penambang dalam kasus penambangan pasir ilegal di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasiran, Kabupaten Lumajang.

 

Menurut Badrodin, dirinya sudah memerintahkan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri bila memang ada keterlibatan kepolisian dalam beking penambangan pasir ilegal di Lumajang.

 

"Yang jelas begini, banyak berita miring bahwa polisi lambat menangani, laporan dari warga tidak ada penanganan, saya sudah perintahkan dari Propam kok. Nanti dari Propam itu akan diperoleh hasilnya," jelas Badrodin saat dihubungi, Kamis (1/10/2015).

 

Mantan Kapolda Jawa Timur itu kembali menegaskan, telah memerintahkan jajarannya di Polda Jawa Timur untuk mengambil alih kasus itu dari Polres Lumajang dan mengusutnya sampai tuntas.

 

Pasalnya, Badrodin berkeyakinan adanya aktor intelektual di balik tewasnya aktivis anti tambang, Salim Kancil dan rekannya Tosan yan kritis akibat dianiaya warga yang pro dengan aktivitas pertambangan.

 

"Harapan saya kepada jajaran di Polda Jatim untuk terus mengungkap. Dan sudah saya perintahkan supaya ambil alih sampai tuntas, kemungkinan ada aktor intelektualnya," ungkap Badrodin.

 

Sementara polisi sendiri sudah menetapkan 22 tersangka atas penganiayaan yang dialami Kancil dan Salim. Sementara Kepala Desa Awar-Awar juga ditetapkan sebagai tersangka, atas kasus melakukan penambangan pasir ilegal dan penganiayaan terhadap Salim dan Tosan.

 

Tangkap Aktor Intelektual

Sebelumnya Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (29/09/ 2015) mengatakan, Polisi terus menyelidiki kasus pembunuhan aktivis penolak tambang Salim Kancil di Lumajang, Jawa Timur.

 

"Sudah saya perintahkan, dan sudah di-back up. Kan sudah ditangkap 20 orang, tinggal mengembangkan siapa yang nyuruh, siapa aktor intelektualnya," tegasnya.

 

Seperti diketahui, selain Salim Kancil, aktivis lainnya Tosan juga menjadi korban. Tosan luka parah di sekujur tubuhnya. Akibatnya, ia koma selama 2 hari di rumah sakit. Salim dan Tosan dijemput secara paksa dan dianiaya oleh sekelompok orang yang diduga terkait dengan usaha pertambangan, Sabtu (26/09/2015) lalu.

 

Langkah penyelidikan ini merupakan sebagai tindak lanjut dari instruksi Presiden Jokowi yang meminta penegak hukum mengusut kasus ini secara tuntas.

 

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, tersangka kasus ini masih bisa bertambah. Dan penetapan tersangka selanjutnya akan dilakukan berdasarkan keterangan saksi, tersangka dan alat bukti yang ditemukan.

 

Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Muhnur Satyahaprabu mengatakan, keduanya dikenal sebagai pejuang lingkungan tolak tambang di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

 

Walhi menyebut, masyarakat sekitar sangat terancam, ketakutan sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan tim konsolidasi gabungan. Bahkan pihaknya meminta bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). @ TIM/ISK

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com