,
20 Oktober 2016 | dibaca: 1311 pembaca
Donadei “dikebiri” Pemerintah
Kreatifitas Masyarakat Setempat "lumpuh"

Donadei saat dijadikan lokasi shooting film CRC

Sulsel, skornews.com

 

Semula desa itu bernama Desa Suppirang dan kemudian dimekarkan sekitar 15 Tahun lalu menjadi 3 Desa yaitu Desa Suppirang (desa induk), Desa Mesa kada dan Desa Sali Sali.

 

Lokasi Donadei Institute berada di Desa Sali Sali daerah Lekke'bossing Puncak Karomba Silu', daerah ini kami huni turun temurun sejak jaman sebelum kemerdekaan, Donatus marru lahir di Suppirang ini yakni dusun Silu' karomba' desa Sali Sali.

 

Nenek moyang kami bermukim sejak dahulu kala dan sampai saat ini sdh berkembang pesat dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 25 Ribu jiwa yg didalamnya telah terbangun fasilitas pemerintahan, puluhan sekolah dasar negeri dan SMP negeri dan beberapa Puskesmas juga ada banyak rumah-rumah ibadah seperti gereja dan mesjid.

 

Infrastruktur jalan umum yang dulu cuma jalan setapak hanya dapat diakses pejalan kaki dan transportasi kuda namun kemudian sekitar awal Tahun 2000 dibangunlah rintisan jalan untuk mobil oleh pemerintah daerah Kabupaten Pinrang yang menghungkan Kab. pinrang dengan Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa sekitar 50 km.

 

Jalan tersebut kembali terbengkalai dan menjadi jalan setapak karena kecintaan Donadei institute pada kampung halamannya maka terpanggil untuk menata kembali lingkungan dan kehidupan masyarakatnya yang notabene masih merupakan satu rumpun keluarga untuk lebih ramah lingkungan dan bermartabat.

 

Sejak tahun 2006, Donadei institute membebaskan kebun-kebun kopi masyarakat setempat dengan membelinya dari keluarga kurang lebih 20 Ha. sebagai percontohan untuk dihutankan kembali dengan menanam pohon unggulan lokal seperti kayu-kayuan tanaman Uru, gemelina, mahoni dan jabon hingga Ratusan Ribu pohon dan telah menjadi kawasan hutan buatan mandiri.

 

Sekitar Tahun 2009, Donadei institute menata kembali jalan lintas di Tiga Desa tersebut yakni suppirang, sali sali dan mesa kada sekaligus menghubungkan Dua Propinsi Sulsel dan Sulbar yang dulunya telah dirintis oleh Pemda Pinrang sehingga Tida desa saat ini sudah bisa terjangkau kendaraan roda Emapt.

 

Masyarakat dengan bangga telah memiliki kendaraan transportasi rute Makassar - Suppirang dan angkutan antar dusun dan  kota-kota lainnya meskipun status jalannya masih berstruktur tanah dan pengerasan.

 

Geliat ekonomi masyarakat setempat sudah bergairah dan maju, sekitar Tahun 2011 Donadei institute melanjutkan pembangunan penghijauan dan kebun percontohan serta penataan lokasi sekitar 5 Ha. yang dikelolah dengan menanam pohon kopi dan buah-buahan seperti apel, jeruk, manggis, durian, apokat, durian dan markisa serta tanaman hias bunga2an termasuk juga kolam ikan air tawar, kolam renang alami dan rumah adat tongkonan yang digunakan sebagai tempat pertemua untuk 3 desa pada perayaan hari besar agama dan pesta adat terutama pada akhir tahun.

 

Niat tulus gerakan sosial Donadei institute adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tiga Desa setempat dan masyarakat sekitarnya dengan konsep tetap membangun, menciptakan serta melestarikan hutan dengan cara merubah pola pikir dan pola bercocok tanam masyarakat yang semula berkebun berpindah-pindah (subsisten) menjadi pola komersial dan menetap sehingga kebun baru tidak lagi akan berdampak negatif pada linggkungan sekitarnya.

 

Kehadiran Donadei institute membangun kebun-kebun percontohan sebagai pusat study dan pelatihan masyarakat dan terbangunnya lokasi donadei institute tidak pernah menyangka kalau akan sangat diminati dan dijadikan lokasi wisata karena posisinya  berada di puncak dengan ketinggian sekitar 1200 Meter diatas permukaan laut.

 

Dari lokasi puncak Donadei terlihat hamparan laut luas dan kota pare-pare, kota pinrang dan sekitarnya terutama dimalam hari, juga dapat melihat perbukitan tanah toraja, mamasa dan polman sebagai batas wilayah Kabupaten serta pesona awan yang meyelimuti pada waktu2 tertentu yang membuat pengunjung “terhipnotis” akan keindahannya.

 

Wisatawan asing dan lokal yang datang dari segala penjuru melintasi jalan penuh tantangan yang sama sekali tidak perna diundang oleh donadei institute bukan untuk peruntukan wisata dan karena semuanya berawal saat libur lebaran juli 2016, beberapa keluarga dan orang-orang yang berkunjung sekembalinya ke kota mengunggahnya di sosial media tentang keelokan lokasi donadei institute.

 

Berawal dari situlah, Donadei dikenal dan semakin banyak pengunjung bahkan wartawan TV One dan Kompas TV serta media lainnya pernah datang meliput tanpa sepengetahuan pihak Donadei institute lalu mempublikasikannya.

 

Banyak saran dari pengunjung yang bersifat keluhan karena tdk tersedianya fasilitas umum seperti area parkir, toilet umum dan juga penjual makanan dan minuman karena memang sejak awal fasiltas umum tidak dibangun untuk wisata tapi karena pengunjung menyukai sehingga tercipta suasana kondisional melengkapi kebutuhan pengunjung yang tidak mungkin kami usir kalau datang karena kami anggap sebagai tamu yg kami yakini sebagai pembawa rejeki sesuai pesan leluhur kami.


Sekitar Dua Bulan, Donadei dikunjungi untuk berwisata lalu kami mendapat surat teguran dari Pemda Pinrang untuk segera menutup dan menghentikan kegiatan donadei instiute, sejujurnya pihak Donadei Institute sangat senanglah kalau tidak ada pengunjung yang berwisata karena menimbulkan banyaknya sampah plastik dibuang sembarangan.

 

Pantaskah kami menghentikan menanam pohon, menghentikan pembinaan masyarakat dan menghentikan niat donadei institute bertujuan ibadah?

 

Donadei instiute baru mengetahui jika lokasi Tiga Desa kami di Suppirang, Sali Sali dan Mesa kada ternyata masuk kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang kami telah huni sejak leluhur turun temurun sebelum indonesia merdeka, mohon kearifan dan kebijakan semua pihak untuk tidak jadi “pengecut” melihat kenyataan ini.

 

Penentuan status HPT oleh pihak berwenang baru ditetapkan pada Tahun 1992 dan kegiatan Donadei institute telah dimulai sejak tahun 2004 sampai sekarang dan telah berjalan sekitar 12 Tahun namun baru mendapat teguran dari Pemda pada Bulan Agustus 2016 //donadei

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com