,
15 April 2015 | dibaca: 1591 pembaca
Ironi Air Bersih dan PDAM Kolaka

Ridwan Demmatadju

15 April 2015 Pukul 08:29 Wita

Oleh: Ridwan Demmatadju

 

Sudah hampir sebulan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Kolaka, Prov. Sultra tidak dapat dipakai mandi dan cuci. Tak jelas musababnya karena sampai saat ini pihak PDAM Kolaka tidak pernah memberikan informasi.

 

Air dan listrik di kota ini sedari dulu masih jadi persoalan yang tak kunjung selesai padahal hampir setiap tahun dana ratusan hingga milyaran digelontor untuk peningkatan pelayanan tapi apa hasilnya?.

 

Persoalan ini tak selesai karena hari ini disaat aku menulis ini, isteri saya masih mengeluhkan air di bak kamar mandi tinggal satu jengkal dari dasarnya dan itu artinya harus membeli air dari Tahoa yang dijual pakai tangki tower dengan harga Rp 50 ribu/tangki tower.

 

Saya diam-diam membuka laptop dan menulis ini, mudah-mudahan dibaca oleh Pak Ahmad Peokan (Direktur PDAM Kolaka) supaya diupayakan segera mengalir, apa mungkin?

 

Rasanya tidak semudah yang kita bayangkan untuk mengalirkan air baku sampai ke rumah penduduk di Kolaka yang memiliki sifat sabar tingkat “dewa” padahal sudah sebulan air dan listrik jadi hantu yang menakutkan. Toh, mereka tak ada yang protes secara terbuka paling hanya mengeluh di media sosial dan tak ada perubahan.

 

Seingat saya, mahasiswa USN Kolaka pernah berdemonstrasi soal pemadaman listrik di DPRD Kolaka empat bulan lalu, lagi-lagi masalah tak kunjung selesai. Setiap 2-3 malam warga Kolaka dapat giliran pemadaman lampu.

 

PDAM Kolaka dalam catatan saya, mahasiswa dan masyarakat Kolaka lebih memilih diam. Akal sehat saya sepertinya tak bisa menerima jika kebutuhan air bersih masih jadi masalah di kota ini karena anggaran untuk menyelesaikan persoalan ini cukup besar nilainya dan jika anggaran ini digunakan dengan baik serta perencanaan yang baik saya yakin persoalan air bersih di Kolaka. Tahun 2015 sudah tuntas, harusnya tidak ada lagi mobil tangki yang lalu lalang menjual air hingga tengah malam.

 

Membandingkan beberpa kota kabupaten terdekat di Sulawesi Selatan, persoalan air bersihnya sudah tuntas di tahun 1990-an. Mengapa cepat selesai? karena direncanakan dengan baik dengan anggaran yang tepat sasaran alias tidak bocor disalahgunakan membeli peralatan bekas pakai atau tidak sesuai kebutuhan.

 

Ini soal lain tapi sangat terkait dengan hasil yang diterima oleh masyarakat sebagai konsumen air baku buatan PDAM Kolaka yang juga tidak layak konsumsi.

 

Mengamati kondisi air di bak, jika seminggu dikuras maka ditemukan endapan lumpur tetapi tak pernah dipersoalkan layak atau tidak yang penting mengalir itu saja. Seperti itulah kesabaran masyarakat Kolaka jadi pelanggan PDAM, selebihnya ada yang menggali sumur bor sendiri tanpa harus tergantung dengan pasokan air dari PDAM.

 

Sepengetahuan saya, sejak Tahun 2009, PDAM Kabupaten Kolaka menganggarkan investasi pada sarana produksi yaitu pada sumber air bersih, instalasi pompa dan instalasi pengolahan air. Anggaran ini bersumber dari penyertaan modal dari Pemerintah Kabupaten Kolaka dan APBN yaitu Dana Bantuan Penyehatan PDAM Kolaka yang berasal dari Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum (Satker PKPAM) Sultra, Kementerian Pekerjaan Umum.

 

Investasi ini tujuannya untuk peningkatan layanan air minum di Kolaka. Jumlahnya lumayan besar namun nilai dan hasil dari proyek peningkatan itu tidak digunakan karena tidak sesuai dengan spesifikasi, kemudian ada yang digunakan hanya satu saja dan hancur dihantam banjir sungai Sakuli.

 

Tidak perlu saya sebutkan nilai nominal pastinya karena semua juga tahu anggaran proyek air bersih itu tidak ada yang dibawah Rp 1 Milyar karena menyangkut kehidupan orang banyak. Kita bisa bayangkan jika kebutuhan air tidak terpenuhi selama 1 hari di sebuah rumah tangga maka bau tidak sedap dan kotor pasti terhidang di hadapan kita.

 

Nilai anggaran untuk investasi di PDAM Kolaka cukup besar jumlahnya, toh air minum masih rumit diatasi, keluhan pelanggan belum bisa dijawab oleh pihak pengelola, catatan kekesalan atau rasa tidak puas pelanggan tak lagi terbilang jumlahnya itu pasti.

 

Disorot di koran juga rasanya tidak ada gunanya tak menyelesaikan masalah pelik ini, dibawah dewan perwakilan rakyat Kolaka juga rasanya tidak ada solusinya.Di koran kemarin Sekretaris Kabupaten Kolaka, Drs. H. Poitu Murtopo juga menyoroti kinerja PDAM Kolaka yang kian buruk saja. Tinggal Bupati Kolaka saja yang ditunggu untuk mengambil langkah cepat menyelesaikan masalah air bersih di Kolaka yang tak kunjung usai karena sudah pernah mengeluarkan penyataan keras untuk PDAM Kolaka.

 

Persoalan ini tak akan usai dalam tempo cepat karena terkait banyak hal termasuk urusan perencanaan yang tidak digarap untuk jangka yang panjang dan soal anggaran yang tidak digunakan dengan baik sehingga kualitas pekerjaan dengan gampang diterjang banjir sungai Sakuli atau trapo listriknya terbakar karena tidak sesuai dengan kebutuhan.

 

Ada satu hal yang luput dari pengelola yaitu setiap kali hujan deras dan banjir di sungai Sakuli, pastilah air bersih tidak mengalir karena ada masalah di intake Sakuli, tempat penyedotan air baku kemudian diteruskan ke bak penampungan yang terletak di puncak kayangan, jl. kemakmuran Kolaka.

 

Sumber air baku PDAM Kolaka di Sungai Sakuli ini, memang selalu mengalami kerusakan akibat arus banjir di hulu yang membawa sejumlah potongan batang kayu berdiameter besar, batang kayu inilah yang menghantam pipa penyedot air baku ke bak penampungan dan kendati tidak rusak biasanya sehabis hujan di hulu maka air dengan endapan lumpur yang tersedia dan biasanya pihak PDAM Kolaka tak mengalirkan air karena keruh.

 

Inilah tandanya dan mudah diketahui jika Anda (masyarakat Kolaka) yang berlangganan PDAM, silahkan melintas di jembatan indumo sehabis hujan deras maka percayalah pasti air Anda tidak mengalir 1-2 hari bahkan sebulan dan tidak ada penyampaian resmi dari PDAM Kolaka.

 

Sebenarnya masalah kerusakan seperti ini lagi-lagi sudah bisa teratasi jika saja semua pihak yang bertanggunjawab bisa membuat perencanaan jangka panjang untuk mencari cara yang lebih tepat untuk pasokan air bersih selain dari sungai Sakuli karena di Kolaka sumber air baku cukup tersedia.

 

Sebetulnya pihak PDAM Kolaka punya rencana yang baik untuk memberikan layanan yang maksimal kepada pelanggannya hanya saja anggaran yang tidak tersedia, kemudian dari laporan keuangannya selalu dinyatakan merugi terus. Pernyataan seperti ini sudah sejak lama saya ketahui, waktu Pak Bahtiar Latuanda dan Pak Jusrin saat masih menjabat alasan ini selalu dengan gampang terlontar dari mulutnya, saat saya bertanya kenapa PDAM Kolaka macet lagi. Itu jawabannya dan hari ini saya yakin akan sama.

 

Dan buru-buru saya harus menyelesaikan tulisan ini terdengar suara mantan pacarku dari dapur yang sedari pagi sibuk mengerjakan tugasnya, mulai dari masak nasi, sayur dan mencuci saja yang tidak dia lakukan hari ini karena air di bak sudah tinggal sejengkal, "Pak timbakan air dulu, saya tidak sampai", katanya.

 

Saya terpaksa harus beranjak dari kursi tempat saya mengetik tulisan ini sambil menggerutu kesal karena rasa ingin merokok juga muncul tanpa diundang sementara di atas mejaku tinggal pembungkusnya saja yang tersisa. Toh tulisan ini, berharap bisa menjadi pelipur laraku, meski PDAM Kolaka masih macet dan tak ada pemberitahuan kepada pelanggangnya.

 

Saya kehabisan akal untuk menulis PDAM Kolaka padahal perusahaan kelas tempe saja setiap kali ada ganguan pelayanan pasti ada penyampaian permohonan maaf yang dilakukan  melalui media cetak/elektronik, lagi pula untuk urusan penyampaian info kepada pelanggan biayanya tidak mahal, bisa diiklankan di koran yang terbit di Kolaka atau kalau mau yang gratis bisa membuat akun resmi PDAM Kolaka di facebook atau twiter agar masyarakat bisa mendengar keluhan pelanggannya. Atau jangan-jangan karyawan PDAM Kolaka tidak ada yang memikirkan ini. Mudah-mudahan bayangan saya tidak demikian dan saya bersama ribuan pelanggan PDAM Kolaka masih berharap layanan air bersih di Kolaka akan lebih baik mutunya.

 

Saya juga menulis ini karena banyak hal yang perlu dibenahi terkait PDAM Kolaka yang tentunya masih menerima penyertaan modal dari Pemerintah Kabupaten Kolaka yang nota bene dana sebesar itu adalah uang dari rakyat Kolaka yang mesti digunakan dengan baik itu saja.

 

Redaksi/Tata Usaha

Jl. SMA 14 No.16B Cawang, Jakarta Timur

Telp: +62851 0009 5520/0853 1116 6156

Bank Mandiri: 166-00-0127395-2

an. PT SOLUSI KOMUNIKASI REGIONAL

e-mail: redaksi@skornews.com

website: www.skornews.com